Ketika Pelajar Menjadi Pengedar Sabu: Alarm Kegagalan Sistem Menjaga Generasi
Oleh :Nena Fatimah
Kasus pelajar yang terjerat narkoba kembali mencuat dan semakin memprihatinkan. Bukan lagi sekadar sebagai pengguna, sebagian dari mereka justru telah berperan sebagai pengedar. Di Bima, Nusa Tenggara Barat, seorang pelajar diamankan saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di sekitar rumahnya. Kasus serupa terjadi di Kendari, Sulawesi Tenggara, ketika seorang pelajar berusia 19 tahun ditangkap dengan puluhan paket sabu yang tersebar di berbagai lokasi. �
retizen.id + 1
Fenomena ini tentu bukan sekadar kasus kriminal biasa. Ketika pelajar—yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa—justru terlibat dalam jaringan peredaran narkoba, maka ini adalah sinyal serius adanya kerusakan yang bersifat sistemik.
Masuknya pelajar ke dalam lingkaran narkoba menunjukkan bahwa persoalan tidak berhenti pada individu. Ada kegagalan dalam sistem pendidikan, lingkungan sosial, hingga penegakan hukum. Pendidikan hari ini lebih berorientasi pada capaian akademik dan materi, namun lemah dalam membentuk kepribadian dan moral. Akibatnya, banyak pelajar tumbuh tanpa fondasi nilai yang kuat. Agama tidak lagi menjadi landasan hidup, melainkan sekadar pelengkap.
Di sisi lain, lingkungan pergaulan yang permisif turut mempercepat kerusakan generasi. Akses terhadap narkoba yang semakin mudah, lemahnya kontrol sosial, serta minimnya peran masyarakat dalam melakukan amar makruf nahi mungkar menjadikan pelajar sebagai sasaran empuk jaringan narkoba.
Tak kalah penting, sistem hukum yang ada belum mampu memberikan efek jera yang signifikan. Peredaran narkoba terus berulang dengan berbagai modus, bahkan melibatkan generasi muda. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang ada saat ini belum mampu menyelesaikan akar persoalan.
Semua ini mengarah pada satu kesimpulan: kerusakan generasi hari ini bukanlah kebetulan, melainkan buah dari sistem sekuler kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan. Dalam sistem ini, agama tidak dijadikan dasar dalam pendidikan, pergaulan, maupun hukum, sehingga gagal menjaga akal dan moral generasi.
Islam memiliki pandangan yang berbeda dalam menjaga generasi. Dalam Islam, pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak individu cerdas, tetapi membentuk kepribadian yang menjadikan halal dan haram sebagai standar dalam bertindak. Keluarga berperan sebagai madrasah pertama yang menanamkan akidah dan akhlak, sementara masyarakat berfungsi sebagai penjaga lingkungan melalui kontrol sosial yang kuat.
Negara pun memiliki tanggung jawab besar dengan menerapkan sistem hukum yang tegas dan mampu memberikan efek jera, sekaligus menutup seluruh celah peredaran narkoba. Dengan penerapan sistem yang menyeluruh, generasi akan terlindungi dari berbagai bentuk kerusakan, termasuk narkoba.
Oleh karena itu, fenomena pelajar menjadi pengedar sabu tidak cukup disikapi dengan keprihatinan semata. Diperlukan perubahan mendasar dalam cara pandang dan sistem yang mengatur kehidupan. Sudah saatnya umat menyadari bahwa Islam bukan hanya mengatur ibadah, tetapi juga menawarkan solusi komprehensif dalam menjaga generasi.
Dengan kembali kepada penerapan Islam secara kaffah, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman, berakhlak, dan mampu menjaga diri dari berbagai bentuk kerusakan. Tanpa itu, kasus serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan generasi akan terus menjadi korban.
Wallahu a’lam bishawab.
Komentar
Posting Komentar