Fenomena Marriage is Scary: Luka Ekonomi Kapitalisme

 Oleh : Neng Wati

Fenomena marriage is scary yang kian marak di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z, bukanlah sekadar ketakutan emosional terhadap pernikahan. Fenomena ini mencerminkan keresahan nyata akibat tekanan hidup yang semakin berat. Banyak anak muda hari ini menilai bahwa kestabilan ekonomi harus dicapai terlebih dahulu sebelum menikah, karena pernikahan dipersepsikan akan menambah beban hidup.


Lonjakan harga kebutuhan pokok, mahalnya biaya hunian, serta sulitnya memperoleh pekerjaan dengan upah layak menjadi realitas yang tak terelakkan. Kondisi ini membuat generasi muda lebih takut miskin daripada takut tidak menikah. Narasi “marriage is scary” pun terus diperkuat melalui media sosial dan menjadi pembenaran atas ketakutan tersebut.


Tekanan ekonomi ini bukan muncul tanpa sebab. Sistem Kapitalisme yang diterapkan hari ini telah menjadikan kehidupan semakin mahal dan kompetitif. Lapangan kerja terbatas, sementara upah tidak sebanding dengan biaya hidup. Dalam sistem ini, negara cenderung berperan sebagai regulator semata dan lepas tangan dalam menjamin kesejahteraan rakyat. Akibatnya, beban hidup—termasuk urusan pernikahan—dipikul oleh individu.


Selain itu, pendidikan sekuler dan pengaruh media liberal turut membentuk gaya hidup materialistik dan hedonistik. Standar kebahagiaan diukur dari kepemilikan materi, sehingga pernikahan yang tidak menjanjikan kemapanan finansial dianggap menakutkan. Pernikahan pun bergeser maknanya, dari ibadah dan jalan menjaga keturunan menjadi beban ekonomi yang sebisa mungkin dihindari.


Dalam pandangan Islam, pernikahan memiliki kedudukan yang sangat mulia. Pernikahan bukan sekadar ikatan sosial, melainkan ibadah dan bagian dari penyempurnaan agama. Melalui pernikahan, Islam menjaga kehormatan, menenangkan jiwa, serta melanjutkan keturunan dalam ketaatan kepada Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang hamba menikah, maka sungguh dia telah menyempurnakan separuh dari agamanya, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi).


Namun, kemuliaan pernikahan ini kian sulit terwujud ketika sistem kehidupan tidak mendukung terbentuknya keluarga yang sejahtera. Oleh karena itu, Islam tidak hanya menawarkan solusi pada level individu, tetapi juga solusi sistemik melalui peran negara.


Dalam sistem Islam, negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Negara juga bertanggung jawab membuka lapangan kerja yang luas sehingga rakyat mampu hidup layak. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut, ketakutan menikah karena alasan ekonomi dapat ditekan.


Selain itu, pengelolaan milkiyyah ‘ammah (kepemilikan umum) seperti sumber daya alam harus berada di bawah pengelolaan negara, bukan swasta atau asing. Hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat sehingga biaya hidup dapat ditekan dan kehidupan menjadi lebih terjangkau.


Pendidikan berbasis aqidah Islam juga menjadi kunci dalam membentuk generasi berkarakter, tidak terjebak hedonisme dan materialisme. Generasi seperti inilah yang memandang pernikahan sebagai ibadah dan tanggung jawab mulia, bukan sebagai beban yang menakutkan.


Dengan demikian, fenomena marriage is scary sejatinya merupakan luka sosial akibat sistem kapitalisme yang gagal menyejahterakan rakyat dan merusak cara pandang generasi muda terhadap pernikahan. Solusi atas persoalan ini tidak cukup dengan nasihat individu atau edukasi pranikah semata, tetapi menuntut perubahan sistem kehidupan menuju penerapan Islam secara menyeluruh. Dengan sistem Islam, pernikahan dimudahkan, keluarga dikuatkan, dan generasi menjadi penyelamat umat serta peradaban.



Komentar

Postingan Populer

Pengunjung

Flag Counter