Kampung KB, Benarkah Mampu Meningkatkan Kualitas Keluarga
Oleh : Iyatia Yulian (Ibu Muda Aktivis Muslimah)
Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Bandung (DALDUKPPA) Kabupaten Bandung menggelar rapat kordinasi dan sosialisasi Pengtan Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB), dalam rangka penanganan dan pencegahan keluarga rentan,di Aula Kantor Desa Kiangroke Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung, Kamis 02 Oktober 2025.
Program Kampung KB ini bertujuan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan di desa dalam rangka mengintegrasikan pembangunan yang ada di desa maupun dari OPD yang ada di lingkungan Pemkab Bandung tentunya pula untuk membentuk dan membangun masyarakat yang lebih Bedas lagi, sehingga dapat merasakan manfaat pembangunan yang dilaksanakan Pemkab Bandung di Desa Kiangroke. Kedepannya diharapkan dengan Program Kampung KB ini kelompok keluarga bisa memanfaatkan momen-momen kegiatan yang ada di Desa Kiangroke, terutama bagi masyarakat kurang mampu, juga keluarga-keluarga yang ada permasalahan rumah tangganya maupun permasalahan sosial lainnya. (balebandung.com)
Jika digali lebih dalam Program Kampung KB kembali disosialisasikan sebagai upaya mencegah keluarga rentan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Harapannya, warga mendapatkan edukasi tentang kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, hingga pendampingan sosial. Namun pertanyaan mendasarnya tidak bisa dihindari: apakah pembentukan Kampung KB saja cukup untuk memperbaiki kualitas keluarga Indonesia? Pengalaman di banyak daerah menunjukkan jawabannya cenderung: belum.
Kita masih melihat keluarga miskin yang tetap miskin, anak-anak yang kurang terurus, dan rumah tangga yang retak oleh tekanan ekonomi baik kebutuhan hidup meningkat, penghasilan pas-pasan belum lagi terjerat pinjol dan judol maupun ketidakharmonisan peran suami–istri. Jelas program Kampung KB saja tidak cukup menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas keluarga. Sejatinya, peningkatan kualitas keluarga membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh, termasuk dari perspektif nilai-nilai agama yang kaya dan komprehensif.
Dalam pandangan Islam keluarga adalah benteng terakhir pertahanan. Jika keluarga hancur maka tak dipungkiri sendi-sendi kehidupan sosialpun akan hancur. Maka penting untuk menjaga keluarga dengan sebaik-baiknya.
Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah institusi yang memiliki struktur dan hak-kewajiban yang jelas. Pertama, dalam pandangan Islam suami berkewajiban memberi nafkah, melindungi, memimpin dengan adil. Istri berhak mendapatkan nafkah, perlakuan baik, dan ikut mengelola rumah tangga. Keduanya wajib bekerja sama dalam pendidikan anak, komunikasi, dan menjaga akhlak keluarga. Jika edukasi ini diajarkan secara konsisten, banyak konflik rumah tangga dapat dicegah sejak awal.
Kedua, dalam fiqih siyasah Islam negara wajib untuk menjamin kebutuhan dasar bagi masyarakat seperti halnya : menyediakan lapangan pekerjaan bagi kepala keluarga, menyediakan layanan kesehatan yang memadai, memfasilitasi sarana dan prasaran pendidikan yang gratis dan mudah di akses, juga keamanan dan perlindungan sosial bagi seluruh rakyat. Tentu, kebutuhan dasar terpenuhi, orang tua lebih mampu menjalankan peran pengasuhan dan pendidikan anak secara optimal.
Ketiga, negara wajib menekankan larangan riba dan praktik yang merugikan rakyat, distribusi kekayaan yang merata melalui zakat, sedekah, dan infak wajib tertentu, pengelolaan sumber daya alam hanya untuk kepentingan masyarakat, bukan korporasi, pembukaan lapangan kerja melalui pembinaan industri, pertanian, dan perdagangan yang sehat. Dengan struktur ekonomi yang kuat dan adil, keluarga tidak lagi tertekan oleh kemiskinan struktural.
Keempat, negara juga wajib memberikan perlindungan kepada Perempuan dan Anak. Baik perlindungan perlindungan terhadap hak anak melalui pendidikan dan pengawasan moral, perlindungan perempuan dari eksploitasi ekonomi dan sosial, lingkungan masyarakat yang saling menjaga, bukan hanya menuntut individu. Maka tak dipungkiri ketika masyarakat bergerak sebagai komunitas yang saling membantu (ta’awun), ketahanan keluarga meningkat.
Sungguh, nilai-nilai Islam menawarkan konsep yang lengkap—mulai dari pengaturan keluarga, ekonomi, hingga tanggung jawab negara. Jika pendekatan holistik inilah yang dijalankan, kualitas keluarga bukan hanya akan meningkat, tetapi juga bertahan dalam jangka panjang.
Waullohu a'lam bishawab
Komentar
Posting Komentar