Rupiah Sakit, Harga Kedelai Melangit, Perajin Tempe Makin Sulit
Oleh : Rengganis Santika A, STP
Tempe dan tahu, adalah duo sejoli yang sulit dipisahkan dari meja hidangan masyarakat Indonesia. Bahkan di beberapa tempat tempe dan tahu menjadi kuliner khas. Selain murah meriah duo sejoli ini dianggap mewakili kebutuhan gizi masyarakat ketika protein hewani mahal. Saat tempe dan tahu langka bahkan hilang dipasaran akibat kenaikan harga. Dipastikan akan mempengaruhi belanja rumah tangga sebagian besar masyarakat Indonesia. Realitas saat ini, rupiah mengalami pelemahan, maka yang paling terdampak adalah harga barang-barang impor yang ikut melangit. Kedelai sebagai bahan baku utama tempe dan tahu merupakan komoditi impor. Oleh karena itu tak dapat dipungkiri, fakta ini memaksa para perajin tempe harus memutar otak agar tak terancam tekor akibat impor.
Ketika Politik Dan Krisis Moneter Mengancam Dapur.
Pelemahan mata uang adalah indikator kondisi ekonomi yang tengah memburuk. Realitas ini berdampak langsung pada semakin tingginya komoditi impor termasuk kedelai. Tak terkecuali kenaikan harga plastik kemasan untuk pembuatan tempe yang akhirnya menambah beban biaya produksi tahu-tempe. Pelaku usaha tempe mau tak mau harus melakukan penyesuaian (menaikkan) harga. Selain itu merekapun memodifikasi ukuran tempe menjadi lebih kecil dan mengurangi produksi. Akibatnya kebutuhan pangan masyarakat semakin sulit terpenuhi. Demikian pula para ibu rumah tangga terpaksa harus merogoh uang belanja lebih dalam (kumparan.com, 23 Mei 2026)
Pidato presiden beberapa waktu lalu sungguh tak relevan, yang menyatakan bahwa masyarakat desa gak pakai dolar!. Seolah menutup mata atas kenyataan yang dialami rakyat. Ada dua problem besar yang harus menjadi kesadaran serta membuka mata kita negeri ini. Pertama bahwa Indonesia negeri yang begitu luas, kaya sumberdaya alam dan manusia. Memiliki semboyan subur makmur gemah Ripah loh jinawi. Namun sayang untuk memenuhi kedelai di dalam negri saja, Indonesia sangat bergantung pada impor. Bahkan sebagian besar diimpor dari AS. Memang akhirnya pemerintah memberi subsidi 2000/kg (kompas.com,9 Juni 2026) Namun pada intinya Indonesia tetap impor kedelai. Sehingga tidak menyelesaikan akar masalah.
Kedua kebijakan politik ekonomi, yang pro kapitalis. Pemerintah lebih memilih impor karena dianggap lebih murah dan mudah daripada mengembangkan pertanian kedelai. Belum lagi Indonesia terikat perjanjian perdagangan ART (Agreement Resiprocal Tarif) dengan AS. Posisi Indonesia semakin tak memiliki kedaulatan di bidang pangan dan pertanian. Indonesia tak memiliki keberanian untuk melepas impor kemudian mewujudkan kemandirian pangan, termasuk kemandirian komoditi kedelai.
Semua ini tidak terlepas dari kebijakan politik yang berlandaskan sekularisme kapitalisme. Kekuatan mata uang (moneter) memosisikan sebuah negara kuat secara ekonomi. Rupiah tunduk pada dollar, maka indonesia negara lemah secara ekonomi. Sebab Indonesia harus tunduk pada negara kuat pemegang dollar yaitu AS. Walaupun dolar saat ini tengah mengalami tekanan akibat tak berbasis emas, namun mata uang lain jauh lebih lemah akibat berbasis dolar, dan dolar sendiri tak berbasis apa-apa, apalagi emas. Pelemahan rupiah dan mahalnya kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi Kapitalisme yang melahirkan ketergantungan dan menyulitkan rakyat kecil. Disisi lain naiknya harga kedelai dan plastik menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat.
Arah Kebijakan Politik Ekonomi Islam
Politik ekonomi Islam berazaskan aqidah Islam serta menjadikan syariat Islam sebagai standar dalam mengatur perekonomian. Dalam ekonomi hal yang mendasar adalah masalah moneter. Moneter dalam Islam menjadikan emas perak sebagai alat tukar. Al Qur'an, hadist dan contoh Rasulullah Saw dan para sahabat kemudian dilanjutkan para Khalifah, menjadikan Dinar (emas) dan dirham (perak) sebagai mata uang yang kokoh dan stabil selama 14 abad.
Mata uang berbasis emas perak memiliki pondasi yang kuat dan stabil. Khilafah menggunakan mata uang emas dan perak sehingga nilai uang tidak mudah dipermainkan spekulan dan terkena inflasi. Bahkan saat ini investasi yang dianggap menguntungkan adalah emas. Seiring harga perak pun membaik. Tidak seperti uang kertas (fiat money) yang semakin jatuh dalam penjajahan dollar. Dalam strategi pembangunan negara Islam (khilafah), negara membangun kemandirian pangan. Syariat Islam mengatur lahan agar produktif.
Khilafah menerapkan hukum syara dalam menghidupkan lahan pertanian. Selain itu khilafah harus membangun produksi dan inovasi kedelai mandiri sehingga tidak bergantung pada impor. Orientasi khilafah adalah kemandirian negara, terutama dalam aspek-aspek strategis seperti masalah pangan. Para khubaro (pakar) pertanian dilibatkan untuk mengembangkan budidaya kedelai. Indikator keberhasilan Politik ekonomi Islam adalah ketika terwujud pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu, termasuk melindungi perajin kecil seperti perajin kedelai dari tekanan ekonomi, negara khilafah gagal apabila ada satu saja individu terabaikan. Demikian indah penerapan syariat Islam, semua telah dibuktikan sejarah. Wallahu'alam bish showab.
Komentar
Posting Komentar