LEMBAGA PENDIDIKAN BUKAN TEMPAT PELECEHAN

Oleh : Neng Wati 

Maraknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan pendidikan, seperti yang baru-baru ini ramai diperbincangkan di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor menunjukkan bahwa sekolah dan kampus hari ini belum benar-benar menjadi tempat yang aman bagi pelajar dan mahasiswa.

Padahal, orang tua mempercayakan lembaga pendidikan sebagai tempat kedua bagi anak-anak mereka untuk menuntut ilmu sekaligus mendapatkan pembinaan akhlak dan kepribadian. Namun faktanya, berbagai bentuk pelecehan seksual justru banyak terjadi di lingkungan pendidikan, baik melalui ucapan, sikap, tindakan fisik, maupun media digital. Bahkan tidak sedikit pelakunya berasal dari lingkungan terdekat korban, seperti teman sendiri ataupun tenaga pendidik.

Kasus yang ramai saat ini juga termasuk dalam kategori Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), yaitu pelecehan seksual nonfisik melalui sarana elektronik. Fenomena ini semakin menunjukkan buram dan memprihatinkannya kondisi dunia pendidikan hari ini.

Berbagai kasus yang melibatkan pelajar dan mahasiswa menjadi bukti kegagalan implementasi arah dan peta jalan pendidikan sekuler saat ini. Sistem pendidikan yang diterapkan lebih menitikberatkan pada aspek akademik dan materi, namun minim pembentukan kepribadian dan akhlak. Akibatnya lahirlah generasi yang cenderung sekuler, liberal, dan pragmatis, sehingga jauh dari predikat intelektual yang beradab dan bermoral.

Di sisi lain, lemahnya sanksi hukum juga membuat pelaku tidak jera. Tidak sedikit kasus yang berakhir tanpa keadilan yang jelas, terlebih jika pelaku berasal dari keluarga yang memiliki pengaruh atau kekuasaan. Akibatnya, kejahatan seksual terus berulang dan rasa aman di lingkungan pendidikan semakin hilang.

Dalam Islam, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi fokus pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam). Pelajar dididik agar memiliki keselarasan antara pola pikir dan pola sikap berdasarkan aqidah Islam. Dengan pendidikan berbasis ketakwaan, pelajar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kontrol diri dan rasa takut kepada Allah sehingga terhindar dari perbuatan maksiat dan kejahatan.

Islam juga menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi para pelaku kejahatan, termasuk pelecehan seksual, sehingga mampu memberikan efek jera dan menjaga keamanan masyarakat. Selain itu, negara dalam sistem Islam akan membangun suasana kehidupan yang penuh ketakwaan serta menutup berbagai celah yang dapat mendorong terjadinya kerusakan moral di tengah generasi muda.

Karena itu, solusi atas rusaknya dunia pendidikan hari ini tidak cukup hanya dengan slogan atau kebijakan parsial, tetapi harus melalui penerapan sistem pendidikan Islam yang berlandaskan aqidah dan syariat secara menyeluruh.

Komentar

Postingan Populer

Pengunjung

Flag Counter