Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka

Oleh : Nena

Di tengah reruntuhan bangunan, dentuman bom, dan kehilangan orang-orang tercinta, anak-anak Gaza kini menghadapi luka yang jauh lebih dalam daripada sekadar kerusakan fisik. Mereka mengalami trauma yang begitu berat hingga sebagian kehilangan kemampuan berbicara.


Psikoterapis anak asal Norwegia, Katrin Glatz Brubakk, yang bekerja langsung menangani anak-anak di Gaza, menyampaikan bahwa hampir setiap anak di Gaza mengalami trauma. Lebih dari satu juta anak hidup dalam penderitaan psikologis yang sangat berat akibat perang yang tak kunjung berhenti. Sebagian dari mereka bahkan mendadak kehilangan kemampuan bicara sebagai respons terhadap tekanan mental yang luar biasa.


Fenomena ini menunjukkan bahwa tragedi yang menimpa Gaza bukan sekadar krisis kemanusiaan biasa. Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza hingga mereka kehilangan kemampuan berbicara merupakan dampak dari kekerasan yang terus berlangsung. Serangan yang menewaskan warga sipil, menghancurkan rumah, sekolah, rumah sakit, serta merampas rasa aman anak-anak telah meninggalkan luka mendalam yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.


Apa yang terjadi di Gaza tidak hanya menghancurkan fisik manusia dan infrastruktur, tetapi juga menghancurkan kondisi mental generasi masa depan Palestina. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan tawa dan harapan kini tumbuh bersama ketakutan, kehilangan, dan trauma berkepanjangan. Kehilangan kemampuan bicara menjadi salah satu gambaran betapa berat penderitaan yang mereka alami.


Lebih menyedihkan lagi, dunia hingga hari ini belum mampu menghentikan tragedi tersebut. Berbagai kecaman internasional, perundingan diplomatik, dan bantuan kemanusiaan yang diberikan belum berhasil menghentikan penderitaan rakyat Gaza secara menyeluruh. Bantuan kemanusiaan memang dapat meringankan sebagian kesulitan hidup, namun tidak mampu mengakhiri akar persoalan berupa penjajahan, agresi militer, dan kekerasan yang terus berlangsung.


Di sisi lain, banyak negeri Muslim yang memiliki kekuatan politik, ekonomi, maupun militer belum menunjukkan langkah yang efektif untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina. Akibatnya, rakyat Gaza terus menghadapi tekanan yang menghancurkan kehidupan mereka dari hari ke hari.


Karena itu, penderitaan anak-anak Palestina tidak cukup diatasi hanya dengan terapi psikologis, bantuan makanan, atau layanan kesehatan. Semua itu penting dan mendesak, tetapi tidak menyelesaikan sumber utama penderitaan mereka. Yang dibutuhkan adalah berakhirnya penjajahan dan kekerasan yang telah berlangsung selama puluhan tahun sehingga rakyat Palestina dapat hidup merdeka di tanah mereka sendiri.


Bagi umat Islam, tragedi Gaza juga menjadi pengingat akan pentingnya persatuan dan kekuatan politik yang mampu melindungi kaum Muslim di berbagai belahan dunia. Ketika umat tercerai-berai dalam banyak negara dan kepentingan, penderitaan Palestina terus berulang tanpa penyelesaian yang tuntas.


Oleh karena itu, kesadaran politik umat terhadap pentingnya persatuan dan kepemimpinan yang mampu membela kaum Muslim menjadi persoalan yang tidak dapat diabaikan. Dalam pandangan sebagian kalangan Islam, keberadaan Khilafah dipandang sebagai institusi yang dapat menyatukan kekuatan umat dan mengerahkan kemampuan politik maupun militer untuk membebaskan Palestina dari penjajahan.


Anak-anak Gaza tidak membutuhkan belas kasihan dunia semata. Mereka membutuhkan masa depan yang aman, tanah air yang merdeka, dan kehidupan yang terbebas dari ketakutan. Derita sunyi mereka harus diakhiri, bukan hanya dengan pengobatan trauma, tetapi dengan mengakhiri sebab-sebab yang melahirkan trauma itu sendiri. Selama penjajahan dan kekerasan masih berlangsung, selama itu pula luka fisik dan mental rakyat Palestina akan terus menganga di hadapan dunia.

Komentar

Postingan Populer

Pengunjung

Flag Counter