Derita Sunyi Anak Gaza Tercabik Luka

Oleh Iis Nurhasanah

Dampak perang tidak hanya menghancurkan bangunan dan merenggut nyawa, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada jiwa anak-anak yang seharusnya tumbuh dalam suasana aman dan penuh kasih sayang.  Enam bulan pengumuman gencatan senjata di Gaza terlewati. Namun, kekerasan masih berlanjut  secara rutin. Semoga Allah SWT melindungi rakyat Palestina, menguatkan kesabaran mereka, menyembuhkan yang terluka, membebaskan mereka dari segala bentuk penindasan, serta menggerakkan kaum muslimin untuk peduli dan membantu menghentikan genosida ini.

Trauma menyebabkan sebagian anak kehilangan kemampuan berbicara

Di Gaza, anak-anak hidup dalam trauma parah di kondisi yang penuh ketidakpastian dan berlangsung lama. Anak-anak itu mengkhawatirkan nyawa mereka, hidup keluarga mereka, teman-teman dan orang yang mereka kasihi. Faktor-faktor itu membuat tingkat stres dan dampak pada sistem saraf anak-anak sangat luar biasa.

Laporan BBC yang mengutip Katrin Glatz Brubakk, psikoterapis anak asal Norwegia menjelaskan bahwa sebagian anak Gaza mengalami kehilangan kemampuan berbicara (mutisme akibat trauma) setelah menyaksikan kekerasan, kematian anggota keluarga, dan kehancuran yang berulang.  Penelitian dan laporan Save the Children juga menemukan meningkatnya gangguan bicara, bahasa, dan komunikasi pada anak-anak Gaza, termasuk temporary reactive mutism (bisu sementara akibat trauma atau kekerasan).

Reaksi dari tekanan itu berbeda di masing-masing anak. Beberapa menunjukan sikap gelisah, susah tidur, emosi, hingga berteriak. Dan, penderitaan seperti itu bisa dideteksi.Namun, ada anak-anak yang bereaksi dengan membisu sepenuhnya. Seolah-olah sistem saraf mereka berkata: "Saya tidak kuat lagi".Akhirnya, cara yang dilakukan untuk melindungi diri mereka adalah dengan menarik diri. Bagi anak-anak itu, diam menjadi cara untuk tidak berinteraksi dengan dunia, yang tidak berhenti membuat mereka menderita dan sakit.

Hilangnya kemampuan berbicara pada sebagian anak Gaza merupakan salah satu dampak psikologis dari paparan perang, pemboman, kehilangan anggota keluarga, pengungsian, dan ketidakamanan yang terus-menerus. Berbagai lembaga kemanusiaan internasional menggambarkan kondisi kesehatan mental anak-anak Gaza sebagai krisis yang sangat serius dan menilai respons internasional belum mampu menghentikan penderitaan warga sipil Gaza, sementara bantuan yang masuk masih jauh di bawah kebutuhan.

Kehilangan Kemampuan Bicara: Jejak Kejahatan yang Membekas

Derita sunyi yang dialami anak-anak Gaza bukanlah peristiwa yang muncul tanpa sebab. Kondisi tersebut merupakan dampak dari serangan yang terus-menerus menghantam kehidupan mereka. Anak-anak menyaksikan rumah-rumah dihancurkan, anggota keluarga terbunuh, serta lingkungan tempat mereka tumbuh berubah menjadi puing-puing. Beban psikologis yang sangat berat itu membuat sebagian anak mengalami gangguan trauma yang berdampak pada kemampuan mereka untuk berbicara dan berinteraksi secara normal.

Kehilangan kemampuan bicara bukan sekadar masalah kesehatan mental, melainkan bukti bahwa perang telah merampas masa kanak-kanak mereka. Ketika seorang anak tidak lagi mampu mengungkapkan rasa takut dan kesedihannya melalui kata-kata, sesungguhnya terdapat luka mendalam yang sulit diukur dengan angka statistik.

Genosida yang Menyerang Fisik dan Mental

Penderitaan rakyat Gaza tidak hanya tampak dari jumlah korban jiwa, tetapi juga dari kerusakan psikologis yang dialami generasi mudanya. Penghancuran rumah, sekolah, rumah sakit, tempat ibadah, dan fasilitas umum telah menciptakan kondisi yang menghancurkan kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Akibatnya, bukan hanya tubuh yang terluka, tetapi juga mental dan masa depan mereka. Anak-anak yang seharusnya tumbuh dengan pendidikan, permainan, dan kasih sayang, justru dibesarkan dalam suasana ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian. Dampak trauma ini dapat berlangsung bertahun-tahun bahkan hingga mereka dewasa, sehingga kerusakan yang ditimbulkan tidak berhenti pada generasi saat ini saja.

 

Dunia yang Gagal Menghentikan Kejahatan Kemanusiaan

Meskipun berbagai lembaga kemanusiaan, aktivis, dan masyarakat dunia terus menyuarakan penderitaan Gaza, hingga kini tragedi tersebut belum benar-benar berhenti. Bantuan kemanusiaan memang sangat dibutuhkan untuk meringankan penderitaan rakyat Gaza, tetapi bantuan saja tidak cukup untuk menghentikan akar masalah yang menyebabkan penderitaan itu terus berulang.

Di sisi lain, banyak negara muslim dinilai belum menunjukkan langkah yang mampu memberikan perlindungan nyata bagi rakyat Palestina. Berbagai pernyataan kecaman dan seruan diplomatik sering kali tidak berbanding lurus dengan tindakan yang efektif untuk menghentikan agresi dan melindungi warga sipil yang menjadi korban. Bahkan dunia tak mampu menghentikan kejahatan entitas Zionis ini, kecuali sedikit bantuan kemanusiaan. Sementara penguasa muslim justru melakukan pengkhianatan terhadap perjuangan muslim Palestina.

Akar Masalah Penderitaan Anak Gaza

Akar masalah yang menyebabkan penderitaan rakyat Gaza tidak hanya dilihat sebagai persoalan kemanusiaan, teritorial, atau politik semata, tetapi sebagai bagian dari persoalan yang lebih mendasar yaitu: Pertama lemahnya persatuan umat,  sehingga umat tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Kedua tidak diterapkannya aturan Islam secara menyeluruh dalam kehidupan karena Islam bukan hanya mengatur ibadah individu, tetapi juga pemerintahan, ekonomi, hukum, pendidikan, dan hubungan internasional. Ketiga yaitu ketiadaan kepemimpinan umat yaiu khilafah Islam. Saat ini umat Islam kehilangan kepemimpinan tunggal yang mampu menjaga wilayah-wilayah Islam dan membela kaum muslimin yang tertindas.

Derita Anak-Anak Palestina Harus Diakhiri

Derita yang dialami anak-anak Palestina tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Mereka hidup di bawah bayang-bayang perang, kehilangan keluarga, tempat tinggal, pendidikan, dan rasa aman yang seharusnya menjadi hak setiap anak. Karena itu, solusi yang dibutuhkan tidak cukup hanya berupa bantuan kemanusiaan, terapi trauma, atau pemulihan psikologis. Semua upaya tersebut memang penting, tetapi tidak akan menyelesaikan akar penderitaan mereka selama penjajahan dan kekerasan masih berlangsung. Oleh karena itu, berbagai pihak perlu berupaya mewujudkan kondisi yang memungkinkan rakyat Palestina hidup merdeka, aman, dan bermartabat di tanah mereka sendiri.

Pelindung yang Kuat adalah Khilafah

Islam memandang bahwa kondisi ini menunjukkan lemahnya posisi umat Islam dalam percaturan dunia saat ini. Umat kehilangan kekuatan pemersatu yang mampu memberikan perlindungan dan pembelaan secara menyeluruh terhadap negeri-negeri muslim yang tertindas.

Berdasarkan Allah SWT. berfirman:

"Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak..."(QS. An-Nisa: 75).

Didalam Islam kejahatan yang dilakukan oleh entitas Zionis terhadap rakyat Palestina harus dilawan sebagai bagian dari jihad fi sabilillah, yaitu perjuangan di jalan Allah untuk membela kaum yang tertindas. Umat Islam dinilai memerlukan kepemimpinan yang kuat dan bersatu untuk melindungi kaum Muslim di berbagai wilayah. Khilafah merupakan bentuk kepemimpinan yang dapat menyatukan kekuatan umat dan mengerahkan berbagai sumber daya, termasuk kekuatan militer, guna membela serta membantu pembebasan Palestina.

 

Pentingnya Kesadaran Perjuangan dan Persatuan Umat

Khilafah merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga kehormatan, keamanan, dan keselamatan kaum muslimin. Karena itu, tragedi Gaza tidak hanya dipandang sebagai krisis kemanusiaan, tetapi juga sebagai refleksi dari kondisi umat Islam yang dinilai belum memiliki kekuatan politik yang mampu melindungi saudara-saudaranya dari berbagai bentuk penjajahan dan penindasan.

Kesadaran tentang pentingnya persatuan umat Islam menjadi salah satu hal yang terus disuarakan dalam berbagai aktivitas dakwah dan pemikiran Islam. Perjuangan menegakkan sistem Islam sebagai bagian dari upaya membangun kekuatan politik umat yang mampu melindungi kepentingan kaum Muslim di seluruh dunia, termasuk dalam isu Palestina. Persatuan yang kokoh di bawah satu kepemimpinan yaitu khilafah akan memperkuat solidaritas umat, menghilangkan sekat-sekat nasionalisme yang memecah belah, serta menjadi jalan menuju pembelaan yang lebih efektif terhadap kaum Muslim yang mengalami penindasan di berbagai belahan dunia. Berdasarkan firman Allah SWT. "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara." (QS. Al-Hujurat: 10)

Wallohu 'allamu bi as-showab!

Komentar

Postingan Populer

Pengunjung

Flag Counter