Rupiah Melemah, Beban Masyarakat Menengah-Bawah Makin Berat

Oleh Ira Fuji Lestari


NILAI tukar rupiah ambruk ke level 17.600 per dolar Amerika Serikat pada periode long weekend, Jumat, 15 Mei 2026. Berdasarkan data Google, rupiah menyentuh level 17.602 pada Sabtu pagi, 16 Mei 2026. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Asuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Faktor lain adalah arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed (Tempo.com, 16/05/2026).

Presiden RI Prabowo Subianto menanggapi santai kekhawatiran sejumlah pihak terkait kondisi ekonomi nasional dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Prabowo menilai masyarakat kecil, terutama di desa, tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dolar (Kompas.com, 16/05/2026).

Melemahnya rupiah terhadap dolar bagi rakyat Indonesia salah satunya mengakibatkan lemahnya daya jual beli masyarakat. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengingatkan potensi badai pemutusan hubungan kerja (PHK) dikarenakan penurunan daya jual beli yang terus menerus memengaruhi harga jual barang sehingga berdampak pada pendapatan pelaku usaha. Perusahaan terpaksa melakukan efisiensi dengan mengurangi jumlah karyawan.

Dampak Penerapan Kapitalisme

Adanya banyak faktor yang menyebabkan pelemahan tukar rupiah berakar dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Sistem inilah yang menjadi lahan subur bagi tumbuhnya permasalahan, di antaranya:

Pertama, sistem kapitalisme berfokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan pemerataan kesejahteraan. Akibatnyan kesejahteraan hanya dirasakan oleh segelintir elite, yaitu pemilik modal.

Kedua, sistem kapitalisme membebaskan kepemilikan atas apa pun. Akibatnya sumber daya alam (SDA) yang seharusnya dikelola negara demi kemaslahatan rakyat dikuasai oleh pemilik modal. Negara pun terpaksa mengandalkan pajak dan utang. Pajak yang tinggi jelas membebani rakyat dan makin melemahkan daya beli.

 

Ketiga, sistem kapitalisme memosisikan negara hanya sebagai regulator, bukan pengurus urusan umat, lebih parah lagi, aturan-aturan yang dibuat sering kali berpihak kepada pemilik modal.

Keempat, sistem moneter kapitalisme berbasis mata uang kertas (fiat money) yang tidak memiliki sandaran pada komoditas berharga seperti emas dan perak. Hal ini menjadikan sistem keuangan rapuh dan tidak stabil. Inflasi inilah yang secara langsung menurunkan daya beli masyarakat dari waktu ke waktu.

SISTEM EKONOMI ISLAM

Sistem ekonomi Islam memiliki konsep yang sangat berbeda dengan sistem ekonomi kapitalisme. Dalam Islam, negara berperan sebagai sentra yang bertanggung jawab penuh dalam mengurus kepentingan. Negara memiliki kewajiban untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya sehingga kesejahteraan merata pun tercapai.

Pertama, sistem mata uang Islam berbasis emas dan perak sehingga menjadikan perekonomian stabil dan bebas dari inflasi maupun krisis ekonomi. Sebagai bukti, nilai satu dinar pada masa Rasulullah SAW dengan saat ini masih memiliki daya beli yang sama.

Kedua, negara akan menjamin kebutuhan individu dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi laki-laki dewasa agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga.

Ketiga, sistem ekonomi Islam menjamin bahwa kebutuhan publik dapat diakses secara merata oleh seluruh masyarakat tanpa dikriminasi berdasarkan kemampuan ekonomi.

Demkianlah sistem ekonomi Islam yang mampu menjaga stabilitas perekonomian serta menjamin kesejahteraan rakyat. Daya beli masyarakat pun akan senantiasa terjaga. Dengan sistem moneter bebasis dinar dan dirham serta negara yang berfungsi sebagai pengurus urusan umat, kestabilan daya beli dan kesejahteraan rakyat dapat terwujud secara nyata dan berkelanjutan. Sistem ekonomi ini akan diterapkan dengan paripurna melalui penerapan Daulah Islamiyah.


Komentar

Postingan Populer

Pengunjung

Flag Counter