Guru Dikeroyok Murid, Murid Dihina Guru: Cermin Pendidikan yang Kehilangan Nilai Islam

Oleh : Ratna Juwita

Peristiwa adu jotos antara seorang guru dan murid di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi, menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial. Guru bernama Agus Saputra terlibat perkelahian fisik dengan siswanya, bahkan melaporkan kejadian tersebut ke Polda Jambi sebagai dugaan penganiayaan.

Berdasarkan video berdurasi 58 detik yang beredar, keributan bermula saat Agus menyampaikan perkataan melalui mikrofon. Belakangan diketahui, ucapan tersebut diduga mengandung hinaan yang memicu amarah siswa hingga terjadi adu jotos. Salah seorang siswa, MUF, mengungkapkan bahwa guru tersebut kerap berbicara kasar, menghina siswa dan orang tua mereka, bahkan melabeli siswa dengan sebutan “bodoh” dan “miskin”.

Guru-guru lain yang menyaksikan kejadian tersebut kemudian melerai perkelahian dan membawa Agus ke dalam ruangan. Dinas Pendidikan Provinsi Jambi menyatakan telah mendalami insiden ini untuk mengetahui duduk perkara secara menyeluruh.

Kasus guru dikeroyok murid bukan sekadar konflik personal atau luapan emosi sesaat. Ini adalah problem serius yang mencerminkan kondisi dunia pendidikan yang sedang tidak baik-baik saja. Relasi guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan kasih sayang justru berubah menjadi relasi penuh ketegangan, bahkan kekerasan.

Di satu sisi, murid telah bertindak tidak sopan, kasar, dan kehilangan batas adab. Di sisi lain, tidak dapat dimungkiri bahwa ada guru yang kerap menghina, merendahkan, dan melukai psikologis murid dengan kata-kata yang tidak pantas. Kedua belah pihak akhirnya terjebak dalam lingkaran konflik yang berujung pada kekerasan fisik. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan sekadar pada individu, tetapi lebih dalam lagi pada sistem yang membentuk pola relasi tersebut.

Inilah buah pahit pendidikan dalam sistem sekuler-kapitalis. Pendidikan dijauhkan dari nilai Islam dan dipersempit menjadi sekadar proses transfer pengetahuan serta pencapaian target akademik. Adab dikesampingkan, akhlak dianggap urusan privat, sementara sekolah berubah menjadi ruang kompetisi, tekanan, dan pelampiasan emosi. Guru dibebani target dan administrasi, murid ditekan oleh nilai dan standar pasar. Ketika ruh pendidikan dicabut, yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang lelah, tertekan, dan mudah meledak.

Islam memandang pendidikan secara sangat berbeda. Pendidikan bukan hanya bertujuan mencetak manusia pintar, tetapi membentuk manusia yang memiliki syakhshiyah Islamiyah. Rasulullah saw. menegaskan bahwa tujuan utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Hal ini menunjukkan bahwa akhlak merupakan fondasi utama pendidikan, bukan sekadar pelengkap. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, kekerasan, dan kezaliman.

Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid diajarkan untuk memuliakan guru (ta’dzim), bukan karena guru selalu benar, tetapi karena guru adalah perantara ilmu. Pada saat yang sama, guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang dan keteladanan, bukan dengan hinaan dan caci maki. Guru bukan algojo di kelas, bukan pula pelampiasan frustrasi, melainkan figur pendidik yang mencerminkan akhlak Islam. Ketegasan dibolehkan, tetapi kekasaran adalah bentuk kezaliman. Menegur merupakan bagian dari pendidikan, sedangkan merendahkan adalah pelanggaran terhadap nilai syariat.

Lebih dari itu, sistem pendidikan Islam menempatkan negara sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh dalam membangun pendidikan berbasis akidah Islam. Kurikulum, metode pengajaran, dan lingkungan sekolah seluruhnya diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam, sehingga guru dan murid sama-sama terikat pada adab dan hukum syariat, bukan sekadar aturan administratif. Pendidikan tidak diserahkan pada logika pasar, tetapi diposisikan sebagai sarana pembentukan manusia beriman, berilmu, dan berakhlak.

Kasus guru dikeroyok murid dan murid dihina guru adalah alarm keras bahwa pendidikan hari ini telah kehilangan nilai Islam. Selama pendidikan terus dijalankan dengan paradigma sekuler-kapitalis, selama adab disingkirkan dan akhlak dianggap nomor dua, maka konflik serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang.

Sudah saatnya kita berhenti menambal sulam dan berani bertanya lebih mendasar: sistem pendidikan seperti apa yang sedang kita jalankan? Jika jawabannya adalah sistem sekuler yang menjauhkan Islam dari ruang kelas, maka jangan heran apabila sekolah berubah menjadi arena konflik, bukan tempat pembentukan manusia yang beradab dan bertakwa.

Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa rusaknya pendidikan hari ini bersumber dari sistem yang menjauhkan Islam dari kehidupan. Karena itu, perjuangan menegakkan kembali sistem pendidikan berbasis akidah Islam bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban agar lahir generasi berilmu, beradab, dan bertakwa. Hanya dengan penerapan Islam secara menyeluruh, pendidikan dapat kembali menjadi sarana pembentuk manusia mulia, bukan arena konflik dan kekerasan.

Komentar

Postingan Populer

Pengunjung

Flag Counter